• gambar
  • gambar
  • SMP Negeri 160

Selamat Datang di Website SMP NEGERI 160 JAKARTA. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


SMP NEGERI 160 JAKARTA

NPSN : 20103564

Jl.SMP 160 No.34 TMII, Ceger, Cipayung Jakarta Timur


info@smpn160jkt.sch.id, smpn_160@yahoo.com, smpnseratusenampuluh@gmail.com

TLP : 0218441330


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 67724
Pengunjung : 28656
Hari ini : 34
Hits hari ini : 44
Member Online : 0
IP : 54.158.251.104
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

BELAJAR SECARA DARING ITU ... ??




BELAJAR SECARA DARING ITU ... ??

 web_image_wahyu---1 

Penulis : Wahyu Wijayanti

Tanggal : 10 Mei 2021

 

Sumber : https://suaramojokerto.com/2020/08/03/siswa-belajar-secara-daring-dispendik-ajukan-anggaran-ke-pemkab-mojokerto-untuk-paket-data/

 

Sejak pandemik virus covid-19 melanda Indonesia setahun yang lalu, semua kegiatan di lakukan secara daring baik pemerintahan, perekonomian, maupun pendidikan. Semua dilakukan secara daring. Apa sih daring itu ? Daring menurut KBBI merupakan akronim dari dalam jaringan. Artinya kegiatan yang terhubung melalui jejaring komputer, internet. Kegiatan tersebut seperti webinar, kelas online, KKN onlien hingga kuliah online.

Sedangkan luring adalah akronim dari luar jaringan. Luring berarti terputus dari jejaring komputer. Kegiatan ini tidak menggunakan jaringan internet dan komputer, melainkan media lainnya seperti TV dan dokumen. Jenis kegiatan yang biasa dilakukan secara luring adalah menonton acara TVRI sebagai pembelajaran sekolah, mengumpulkan karya berupa dokumen maupun hasil karya.

Menurut saya selaku mahasiswa, guru, serta orang tua sejak pembelajaran dilakukan secara daring mungkin awalnya terlihat mudah dan menarik karena semua hal bisa dilakukan dari rumah. Tetapi lama kelamaan hal ini membuat jenuh. Banyak hal yang membuat pembelajaran daring menurut saya tidak berjalan dengan kondusif dan efektif, beberapa hal tersebut adalah :

  1. Dari sisi Teknologi

Pembelajaran daring membutuhkan kemampuan IT yang lumayan khususnya bagi pengajar seperti saya. Banyak aplikasi yang bisa dikreasiin dengan kemampuan yang dimiliki. Bahkan dengan kebijakan ini, membuat saya semakin bisa mengasah kemampuan saya dalam hal IT. Bahkan beberapa kali pembelajaran saya buat menarik dengan mengkreasikan pembelajaran dengan video interaktif untuk menjelaskan materi. Bahkan mengkombinasi beberapa aplikasi untuk pembelajaran seperti menggunakan aplikasi PADLET dan GCR (Google Classroom).

Tapi ternyata tidak semua peserta didik bisa mengikuti pebelajaran dengan aplikasi yang berteknologi tinggi seperti menggunakan aplikasi youtube, LMS Padlet, Google Classroom. Apalagi sebagian besar peserta didik berasal dari keluarga yang perekonomiannya di bawah rata-rata. Hal ini membuat pembelajaran tidak berjalan dengan baik. Bahkan ketika saya menggunakan Gmeet atau zoom banyak yang mengeluh tidak bisa caranya untuk gabung atau bahkan tidak punya kuota yang cukup. Akhirnya saya kembali ke aplikasi yang bisa diakses oleh semua peserta didik yaitu whatsapp Grup.

Permasalahannya dari aplikasi waG kita sebagai pengajar tidak punya cukup ruang untuk mengkreasikan pembelajaran karena keterbatasan aplikasi yang ada di waG. Hal ini membuat jenuh saya sendiri bahkan membuat jenuh beberapa peserta didik yang merasa pembelajaran kurang menarik bahkan terkesan monoton. Walaupun saya sudah memberikan video interaktif yang berisi penjelasan materi. Bahkan presentasi juga dilakukan di waG. Karena saya berpikir lebih baik menggunakan aplikasi yang bisa diakses oleh semua peserta didik tanpa harus takut kuota habis.

 

  1. Manajemen waktu yang bermasalah

Jika dilihat dari sudut pandang peserta didik, pembelajaran daring awalnya membuat mereka senang karena bisa menggunakan HP setiap hari tanpa batas karena digunakan untuk pembelajaran secara daring. Tetapi lama kelamaan, hal ini membuat peserta didik cenderung malas untuk melakukan pembelajaran, hal ini dikarenakan mereka jadi asyik sendiri dengan HPnya setelah pembelajaran berakhir mereka tetap menggunakan HP untuk hal yang lain seperti main games atau membuka sosial media. Kegiatan tersebut dilakukan sampai malam bahkan kebanyakan mereka tidur selepas tengah malam. Akhirnya mereka sering kesiangan dan telat mengikuti pembelajaran. Bahkan sering merasa kehabisan kuota untuk belajar.

Setelah beberapa bulan berlalu, peserta didik terlihat bermasalah baik dari kehadiran maupuan dari tanggung jawabnya sebagai pelajar. Peserta didik jadi sering telat mengikuti pembelajaran bahkan sering tidak mengikuti pembelajaran. Kemudian bermasalah juga, di kewajibannya untuk mengerjakan semua tugas yang diberikan. Mereka cenderung mengerjakan tidak tepat waktu bahkan malah tidak mengerjakan tugasnya.

Hal ini membuat guru menjadi galau bagaimana caranya agar peserta didik kembali minat dan semangat belajarnya. Karena sudah semua cara dilakukan seperti bekerja sama dengan wali kelas bahkan dengan orang tua. Tetapi karena sebagian besar orang tua bekerja, membuat guru dan pihak sekolah kesulitan untuk berkomunikasi dengan peserta didik. Karena mereka cenderung bergonta ganti nomor dan sering tidak aktif wanya. Bahkan sering juga memanggil dan mengunjungi beberapa peserta didik yang bermasalah. Tetapi untuk beberapa peserta didik terkesan tak peduli atau biasa ajah.

  1. Dari sisi perekonomian keluarga

Di sekolah, sebagian besar peserta didik berasal dari keluarga yang tingkat perekonomiannya di bawah rata-rata. Bahkan beberapa orang tua peserta didik di PHK dan yang wirausaha mengalami penurunan omset. Hal ini berpengaruh kepada kehidupan dari peserta didik.

Bahkan satu keluarga hanya memiliki satu HP yang dipakai secara beramai-ramai. Hal ini membuat peserta didik kewalahan untuk mengikuti pembelajaran. Mereka cenderung harus berbagi dengan saudaranya yang membuat tugas terbengkalai. Apalagi ketika dipakai bersama akan membuat HP tersebut cepat rusak.

Ada juga yang bermasalah ketika harus mengakses beberapa aplikasi yang membuat HP jadi lemot. Bahkan ada HP yang tidak bisa mengakses aplikasi tersebut. Akhirnya mereka tidak bisa mengikuti pembelajaran dengan baik. Yang lebih menyedihkan lagi ada peserta didik yang bahkan tidak memiliki HP, punyapun hanya HP yang biasa saja.

Banyak hal yang membuat pembelajaran dengan sistem daring menjadi tidak efektif dan kondusif, karena guru tidak bisa memantau kegiatan peserta didik selama proses pembelajaran. Bahkan dengan menggunakan Gmeet atau zoom pun itu harus buat kesepakatan terlebih dahulu untuk oncam. Tetapi ini hanya bisa dilakukan oleh beberapa peserta didik. Balik lagi ke signal dan kuota.

Walaupun pemerintah memberikan bantuan kuota belajar, tetapi itu hanya didapat oleh beberapa peserta didik. Masih banyak yang tidak mendapatkan kuota belajar dikarenakan sering berganti nomor HP, jika tidakpun mereka tidak mengisi dengan pulsa biasa. Ini yang menyebabkan kuota belajar dari pemerintah tidak mereka terima.

Jadi, semakin kesini bukan semakin berkurang permasalahannya malah semakin bertambah permasalahan tentang pembelajaran daring. Materi tidak tersampaikan dengan baik, peserta didik merasa jenuh. Bukan hanya peserta didik tetapi gurupun merasa kurang tercapai tujuan pembelajarannya. Terlebih lagi orang tua yang sudah kewalahan menghadapi anak di rumah dengan segudang pekerjaan yang juga harus dikerjakan. Sudah banyak juga peserta didik yang depresi akibat pembelajaran secara daring.

 

Dari beberapa hal tersebut, menyebabkan pembelajaran daring tidak berjalan dengan semestinya. Walaupun dengan aplikasi belajar yang tidak memakan kuota besarpun tetap saja ada beberapa peserta didik yang bermasalah. Bukan hanya dari IT tetapi dari perilakunya juga mengalami perubahan. Yang biasanya rajin ketika pembelajaran tatap muka, tetapi ketika daring cenderung mulai menurun tingkat kerajinannya lagi. Mereka beralasan bahwa mereka semakin tidak mengerti materi yang diberikan. Karena ada beberapa guru yang hanya memberikan tugas setiap hari tanpa memberikan penjelasan materi di awal. Dan mereka cenderung hanya mencari jawaban di google tanpa harus memahaminya lagi, tinggal copi paste, pekerjaan beres. Mereka juga terkesan terburu-buru untuk menyelesaikan pembelajaran agar bisa melakukan hal lain di HP seperti games atau sosial media.

Intinya, menurut saya pembelajaran secara daring ada sisi bagusnya ada juga sisi negatifnya. Tetapi memang harus dipersiapkan semua hal agar pembelajaran bisa berjalan dengan kondusif dan efektif. Termasuk dari sarana dan prasarananya, kesiapan peserta didik, orang tua, dan pengajarnya, serta perangkat pembelajaran yang sesuai dengan kondisi tetapi juga interaktif sehingga pengajar dan peserta didik bisa menikmati proses pembelajaran. Apalagi nanti ada berita bahwa pembelajaran dilakukan secara luring harus benar-benar mengantisipasinya dengan banyak hal. Terlebih guru dan pihak sekolah harus benar-benar siap.

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas